Jumat, 11 Oktober 2013

DIKSI




A.      PENGERTIAN DIKSI

     Diksi dalam artian yang pertama, merujuk pada pemilihan kata  dan gaya ekspresi oleh  penulis dan pembicara. Atinya yang kedua adalah enusiansi kata.1
seni bicara yang jelas sehingga dapat di pahami oleh pendengar.2
 Pengertian diksi atau pilihan kata jauh lebih luas dari apa yang di pantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja di pergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang di pakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan tetapi juga meliputi fraseeologi, gaya bahasa yang di ungkapkan. Fraseologi mencakup pesoalan kata-kata pengelompokan atau susunannya atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan.
Selain itu diksi menurut pendapat lain adalah ketepatan pemilihan kata di pengaruhi oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan kemampuan yang memahami, mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan efektif kepada pembaca dan pendengarnya.


B.      PENERAPAN DIKSI (pilihan kata) DALAM KALIMAT RAGAM FORMAL

Dalam penggunaan kata-kata dalam kalimat harus dipilih secara tepat, sehingga dapat mengungkapkan maksud anda. Beberapa alasan untuk memilih kata dan menggunakannya secara tepat :
1. Kata-kata ada yang memiliki makna denotatif dan adapila sekaligus memiliki makna konotatif.
2. Kata-kata yang memiliki makna umum dan makna khusus.
3. Kata-kata ada yang memiliki makna sinonim.
4. Kata-kata ada yang  berupa  kata ragam formal (baku) dan kata ragam percakapan (non baku).
5. Kata-kata perlu digunakan secara tepat.
6. Kata-kata perlu di tulis secara benar.

Hal itu di jelaskan satu persatu, sebagai berikut :

1. Kata-kata denotatif dan konotatif

a. Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna.
    Contoh kata denotatif :
    - Membicarakan
    - Memperlihatkan
    - Penonton

b. Makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
     Contoh kata konotatif :
     -  Membahas, mengkaji
     -  Menelaah, meneliti, menyelidiki
     -  Pemirsa, pemerhati

2. Kata umum dan kata khusus

a. Makna umum adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari kata yang lain.
b. Makna khusus adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit dari kata yang lain.
    Contoh kata umum dan kata khusus
    Kata umum                        kata khusus
     - Ikan                                - Gurame, lele, sepat, tuna, dll.
     - Bunga                             -  mawar, ros, melati, anggrek, dan dahlia

3.  Kata makna bersinonim

Kata bersinonim adalah kata yang bentuknya berbeda namun pada dasarnya memiliki makna yang hampir mirip atau serupa. Dalam penggunaan kata besinonim harus memilih kata yang tepat  dalam kalimat ragam formal. Karena meskipun bersinonim pada dasarnya memiliki perbedaan dalam konteks penggunaannya.

Contoh kata bersinonim :
-          Cerdas                        = cerdik, hebat, pintar.
-          Besar                          = agung, raya
-          Mati                             = mangkat,wafat,meninggal
-          Ilmu                             = pengetahuan
-          Penelitian                  = penyelidikan

4.  Kata baku dan non-baku

     Kata baku dan non-baku dapat dilihat berdasarkan beberapa  ranah seperti :

a.  Ranah finologis
     Kata baku yang memiliki kata non-baku karena :
     - penambahan fonem

          Kata baku                             kata non baku
          Imbau                                   himbau
          Andal                                    handal
          Utang                                    hutang

    - pengurangan fonem

   Kata baku                           kata non-baku
   Terap                                   trap
   Terampil                              trampil
   Tetapi                      tapi
   Tidak                                   tak

- pengubahan fonem

   Kata baku                           kata non-baku
   Telur                                    telor
   Ubah                                  obah
   Tampak                               nampak

b. Ranah morfologis
Kata baku yang memiliki kata nonbaku karena  hasil proses morfologis.

- pengurangam fonem
  
   Kata baku                           kata non-baku
   Memfokuskan                    memokukan
   Memprotes                         memrotes
   Memfitnah                          memitnah

- pengubahan fonem

  Kata baku                          Kata non-baku
  Mengubah                          merubah

- penggantian afiks

  Kata baku                            kata non-baku
  Menangkap             nangkap
  Menatap                              natap
  Mengambil                          ngambil
  Menahan                             nahan

- kelebihan fonem

  Kata baku                            kata non-baku
  Beracun                               berracun
  Beriak                                   berriak
  Beribu                                  berribu
  Becermin                             bercermin

c.  Ranah leksikon

     Kata (frasa) baku yang memiliki kata (frasa) non-baku yang terdapat dalam ragam percakapan.

Cotoh  pasangan kata (frasa) baku dan kata (frasa) non-baku sebagai berikut :

  Frasa baku                                      frasa non-baku
  Tidak terlalu                                    tidak begitu
  Belum masak                                  belum matang
  Tidak mau                                      enggak mau
  Hanya nasi                                     nasi doang
       
 Selain menggunakan kalimat ragam formal, juga menggunakan ragam percakapan,
 contoh nya :

  frasa baku                                       frasa non-baku
  waktu lain                                        lain waktu
  Amat besar                                      besar amat
  Amat mahal                                     mahal amat
  pertama kali                                    kali pertama

       Dalam kalimat  ragam formal, kita sering membuat kata-kata yang maknanya redundan. Artinya,kata-kata yang di gunakan sudah melebihi makna, contohnya :
   frasa baku                                      frasa non-baku
   Sangat pedih                                 amat sangat pedih, amat pedih
   Paling kaya                                    paling terkaya terkaya

    Dalam bahasa indonesia, karena adanya penyerapan bahasa asing atau bahasa daerah (sanskerta) terdapat pasangan kata baku dan non-baku. Maka harus memilih dan menggunakan kata serapan yang sudah di bakukan.

  Kata baku                                        kata non-baku
  Apotek                                              apotik
  Asas                                                 azas
  Asasi                                                azasi
  Analisis                                            analisa

5.  Penggunaan kata secara tepat

     Dalam kalimat ragam formal, kita perlu menggunakan kata-kata secara tepat dalam hal penggunaan kata depan seprti :

-  Kata di seharusnya di gunakan pada, contoh

  Penggunaan kata yang tepat                              Penggunaan kata yang tidak tepat
  Pada siang hari                                                      di siang hari
  Pada pagi hari                                                        di pagi hari
  Pada kita                                                                 di kita

-  Kata ke yang seharusnya di gunakan kepada, contoh :

  Penggunaan kata yang tepat                              Penggunaan kata yang tidak tepat
  Kapada kami                                                           ke kami
  Kapada kita                                                             ke kita
  Kepada ibu                                                             ke ibu

Dalam penggunaan kata depan dan kata penghubung  harus digunakan secara tepat, yang sesuai dengan jenis keterangan dalam jenis kalimat,:

1. Untuk keterangan tempat di gunakan kata di, ke, dari, di dalam, pada.
2. Untuk keterangan waktu digunakan kata pada, dalam, setelah, sebelum, sesudah, selama, sepanjang.
3. Untuk keterangan alat di gunakan kata dengan.
4. Untuk keterangan tujuan digunakan kata agar, supaya, untuk, bagi, demi.
5. Untuk keterangan cara digunakan kata dengan, secara, dengan cara, dengan jalan.
6. Untuk keterangan penyerta di gunakan kata dengan, bersama, beserta.
7. Untuk keterangan perbandingan atau kemiripan digunakan kata seperti, bagaikan,laksana.
8. Untuk keterangan sebab di gunakan kata karena, sebab.

6. Penulisan  kata secara benar

Dalam kalimat ragam formal, harus menuliskan kata secara benar seperti :

- Penulisan kata depan di yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
- Penulisan kata depan ke yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
- Penulisan kata depan dari yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.

Selain  kesalahan penulisan kata depan (preposisi), sering pula kesalahan sebagai    berikut :

- Penulisan partikel non seperti pada contoh :
 
    Penulisan yang benar                            penulisan yang salah
    Non-Indonesia                                          non Indonesia
    Non-batak                                                 non batak
    Nonformal                                                  non formal, non-formal

-  Penulisan partikel sub seperti pada contoh :

   penulisan yang benar                             penulisan yang salah
   subbab                                                       sub bab, sub-bab
   subbagian                                                  sub bagian, sub-bagian

-  Penulisan pertikel per seperti pada contoh :

    penulisan yang benar                            penulisan yang salah
    per jam                                                      perjam
    per bulan                                                   perbulan
    per tahun                                                   pertahun

-  Penulisan kata per

   kata per yang memiliki arti ‘menjadikan lebih’ atau memperlakukannya sebagai’
   
   Penulisan yang benar                             penulisan yang salah
   Perbesar                                                     per besar
   Persingkat                                                  per singkat

Dalam bahasa indonesia, kata “ pun “ yang mempunyai arti :
”juga” harus di tuliskan secara terpisah dengan kata yang di ikutinya “

Penulisan yang benar                                penulisan yang salah
Aku pun                                                       akupun
Sedikit pun                                                 sedikitpun

kata pun pada kata tertentu yakni ungkapan yang sudah padu harus di tuliskan serangkai   dengan kata yang diikutinya :.

Penulisan yang benar                                penulisan yang salah
Meskipun                                                      meski pun
Bagaimanapun                                            bagaimana pun

Dalam kata pasca, bentuk terikat pasca di tulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. :

Penulisan yang benar                                penulisan yang salah
Pascasarjana                                             pasca sarjana, pasca-sarjana
Pascapanen                                               pasca panen, pasca-panen

Selain itu dalam penulisan awalan tertentu, seperti :

Penulisan yang benar                                penulisan yang salah
Betolak belakang                                         betolaktolang
Mendarah daging                                        mendarahdaging

7.  Homonim, Homofon, Homograf

a.  Homonim
Homo artinya sama, nym berarti nama, jdi homonim adalah sama nama, sama bunyi tetapi beda makna, contoh : bandar sama dengan pelabuhan, dan dan pemegang uang dalam perjudian.

b.  Homofon
Bunyi atau suara yang mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna contoh :
Bank : tempat menyimpan uan
Bang : panggilan untuk kakak laki-laki

c.  Homograf
Sama tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna, contoh :
- Ular kobra itu bisanya mematikan
- Aku bisa memastikan ayah tidak akan marah jika aku telat pilang karena latihan

8.  Kata abstrak dan kata konkrit

Kata abstrak berupa konsep
Contoh : kebenaran pendapat itu begitu meyakinkan

Kata kponkrit berupa objek yang dapat diamati
Contoh : angka kelulusan SMA tingkat sumatera barat mengalami kenaikan hingga sembilan persen. Membicarakan membahas, mengkaji.



KESIMPULAN

1. Diksi adalah ketepatan pemilihan kata di pengaruhi oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan kemampuan yang memahami, mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan efektif kepada pembaca dan pendengarnya.
2. Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna.
3. Makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan.
4. Makna umum adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari kata yang lain.
5. Makna khusus adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit dari kata yang lain.
6.  Kata makna bersinonim
   Kata bersinonim adalah kata yang bentuknya berbeda namun pada dasarnya memiliki  makna yang hampir mirip atau serupa.
7.  Homonim artinya sama, nym berarti nama, jdi homonim adalah sama nama.
8. Homofon adalah Bunyi atau suara yang mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna.
9.  Homograf adalah Sama tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna.


SUMBER :
1.kemammpuan untuk menemukan kata yang tepat yang sesuai dengan situasi dan rasa
2.http://wikipedia.org                                                                  
3.widjono,bahasa indonesia, (jakarta: Gramedia,2005),H.87


Jumat, 04 Oktober 2013

Ragam Bahasa Indonesia



A. Pengertian Ragam Bahasa

         Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik , yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku. 

Ragam menurut golongan penutur bahasa, terdiri atas:

a) Ragam Daerah, dikenal dengan nama logat atau dialek
b) Ragam Pendidikan, terdiri atas ragam bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku
c) Sikap penutur, dikenal dengan langgam atau gaya

2) Ragam menurut jenis pemakaian bahasa, terdiri atas

a)Ragam dari sudut pandang bidang/pokok persoalan. Misalnya, ragam bahasa bidang politik (istilah khusus)
b) Ragam menurut sarananya: ragam lisan dan tulisan Karakteristik Ragam Bahasa Tulis

• Accuracy (akurat) yaitu kelogisan segala informasi atau gagasan yang dituliskan
• Bravety (ringkas) yaitu pengungkapan gagasan yang ringkas, tidak menggunakan kata-kata mubazir
• Clarity (jelas) yaitu tulisan mudah dipahami, penalaran jelas, tidak menimbulkan tafsir ganda.

Ragam Bahasa Berdasarkan Wacana :

1. Ragam Ilmiah: bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, ceramah, tulisan-tulisan ilmiah
2. Ragam Populer: bahasa yang digunakan dalam tulisan sehari-hari dan dalam pergaulan sehari-hari

Ragam Bahasa Baku :

• Ciri Ragam Bahasa Baku :

1. Kemantapan dinamis
2. Kecendekiaan
3. Keseragaman kaidah

• Ciri Struktur bahasa Indonesia Baku :

1. Lengkap secara morfologis
2. Lengkap secara struktur
3. Penggunaan jenis kata/diksi yang tepat
4. Penggunaan kalimat yang efektif
5. Keparalelan/kesejajaran 

     B.  Macam – macam ragam bahasa

1.    Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media

Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baku bahasa Indonesia, memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi didalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980). Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu :

a) Ragam bahasa lisan

Adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Ciri-ciri ragam lisan :

-  Memerlukan orang kedua/teman bicara;
        Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
      - Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
      - Berlangsung cepat;
      - Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
      - Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
- Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.

    Yang termasuk dalam ragam lisan diantaranya pidato, ceramah, sambutan, berbincang-bincang, dan masih banyak lagi. Semua itu sering digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, terutama ngobrol atau berbincang-bincang, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.

b) Ragam bahasa tulis

Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahsa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.
Ciri Ragam Bahasa Tulis :
1  Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
2  Tidak terikat ruang dan waktu
3. Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
4. Pembentukan kata dilakukan secara sempurna,
5. Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap, dan
6. Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu.
7. Berlangsung lambat
8. Memerlukan alat bantu


2.      Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur

a.       Ragam Bahasa Berdasarkan Daerah (logat/diolek)

Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan “b” pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dan lain-lain. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan “t” seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.

b.      Ragam Bahasa berdasarkan Pendidikan Penutur
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.

c.       Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur

Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Bahasa baku dipakai dalam :

1.  Pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran.
2.  Pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat.
3.  Komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang.
4.  Wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.

3.      Ragam Bahasa menurut Pokok Pesoalan atau Bidang Pemakaian

Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama. Koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran. Improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran atau majalah dan lain-lain.


A.    Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan bahasa baku tulis. Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah Disempurnakan (EYD), sedangkan untuk ragam bahasa lisan diharapkan para warga negara Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan sebagaimana pedoman yang ada.

B. Saran

Sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya kita semua mempelajari ragam bahasa yang kita miliki, kemudian mempelajari dan mengambil hal-hal yang baik, yang dapat kita amalkan dan kita pakai untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari dan yang terpenting menurut saya juga kita wajib menghargai ragam bentuk bahasa dari berbagai macam daerahdi Indonesia karna kita semua walaupun berbeda bahasa tapi tetap satu untuk Negara Indonesia.


Sumber :
Menurut pengetahuan sendiri, dan




Blogroll

Blogger templates